Kronikdaily.com (Bandar Lampung) — Gersang dan tandus menyelimuti daratan di bumi. Sunyi tanpa sungai dan pepohonan yang indah menjadi panorama sejauh mata memandang. Teknologi canggih dan kepadatan kendaraan di jalan raya juga lenyap. Kehidupan di permukaan alam hanya menampakkan bebatuan dan pasir yang beterbangan tertiup angin kering.
Kondisi itu menyulitkan warga yang berlindung di dalam bunker sempit untuk bertahan hidup dari kerusakan ekstrem. Masyarakat yang bertahan hidup di bawah tanah itu hanya mengandalkan kebun hidroponik sebagai bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan pokok karena sumber daya yang langka.
Keadaan itu terjadi pada 2125 alias satu abad dari masa saat ini akibat perbuatan manusia yang merusak dan mencemari lingkungan. Aktivitas ilegal mengundang bencana hingga kerusakan lingkungan ekstrem yang menghancurkan segala yang ada di bumi sehingga harus dirasakan generasi selanjutnya.
Kondisi itu sebagai gambaran yang ditampilkan serial 2125: Pesan dari Bumi. Web series bergenre fiksi ilmiah (sci-fi) itu produksi Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui SiapDarling yang tayang di YouTube Channel Siapdarling.
Sinema dengan gaya dystopian futuristik yang merupakan subgenre fiksi ilmiah itu menceritakan petualangan Alam yang diperankan Gabriel Prince, Laras (Aline Alfauziah), dan Bumi (Calvin Jeremy), keluar dari bunker demi mencari wilayah Utopia. Ketiganya meyakini daerah tersebut sebagai daratan layak huni yang tersisa di bumi dengan memiliki kecukupan sumber daya sehingga warga bunker bisa bermigrasi ke Utopia.
Namun, para pemuda itu justru mendapatkan sesuatu di luar ekspektasi hingga terjadi berbagai plot twist yang mengejutkan penontonnya. Serial yang tayang dalam tiga episode itu total telah menebar pesan 21,5 juta kali ke penonton dengan respons 942 likes dan 105 komentar sejak awal penayangan pada Oktober 2025 hingga Maret 2026.
Salah satu penonton, Apriliandi, mengaku series bertema lingkungan tersebut membawa pesan kuat untuk masyarakat, khususnya generasi Z dan milenial.
“Menonton ini membuat sadar atas pentingnya menjaga lingkungan, air bersih, dan pohon sebagai sumber kehidupan. Sebab, tanpa air bersih dan pohon, bumi tidak ada apa-apanya, yaitu gersang dan tanpa kehidupan yang layak sehingga membuat bumi di masa depan enggak punya masa depan,” kata Andi.
Terlebih, cerita dan visualnya tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga kaya edukasi yang disampaikan secara ringan sehingga pesannya sampai. “Filmnya dikemas dengan ringan, jadi mudah dipahami,” ujarnya.
Mahasiswa di Lampung tersebut menilai menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil dan diri sendiri, seperti mengurangi sampah plastik dan membuangnya sesuai jenisnya, serta menanam satu pohon. “Satu langkah sederhana yang bisa menyelamatkan bumi di masa depan,” ujar gen Z tersebut.
Senada, Gede (21), mengaku serial itu sebagai peringatan kalau bumi sedang menuju ke arah krisis yang lebih parah. Untuk itu, tontonan itu menjadi bahan renungan agar setiap individu bisa peduli dengan keberlangsungan dunia tersebut.
Termasuk, perusahaan-perusahaan perlu memiliki kesadaran bisnis, yaitu integrasi alam dan strategi positif. “Dalam berbisnis jangan hanya mengambil keuntungan saja, tetapi bisa peduli juga terhadap alam sekitar,” kata dia.
Namun, dalam menonton tersebut cukup terkejut dengan plot twist di akhir cerita tentang tokoh dan caranya yang tidak disengaja. Namun, justru efisien dalam mengetuk hati masyarakat secara luas untuk menjaga kelestarian bumi.
“Series ini recommended ditonton masyarakat khususnya anak-anak muda agar membuka mata tentang lingkungan. Masa depan bumi ini ke depannya ada di tangan kita dan tentunya tidak mau melihat anak cucu nantinya hidup di bumi yang tidak layak huni, tanah tandus, krisis air, dan tanpa pepohonan,” kata Gede.
Dikemas Menarik dan Menyentuh
Sutradara 2125: Pesan dari Bumi, Achmad Romie, mengatakan konsep portal ruang dan waktu dalam serial itu mempresentasikan kondisi bumi saat ini dan kerusakan alam yang bisa terjadi di masa depan jika manusia tidak menjaga lingkungan. Masa tersebut ditarik hingga latar waktu 100 tahun mendatang.
Dia menilai series 2125 mirip dengan serial Kami Memohon, mulai dari konsekuensi merusak alam hingga mengajak penonton untuk berpikir dan merenung agar sadar menjaga lingkungan. Meski begitu, dia mengonsep pesan dalam serial terbaru tersebut dengan pendekatan berbeda, yaitu sci-fi, futuristik dan skala cerita yang lebih luas.
“Sebenarnya kami bikin benchmark di (serial) Kami Memohon. Kami ingin pesannya dengan kemasan yang baru ini sampai. Makanya, kami berpikir keras agar beda dan akhirnya coba main dengan portal dan perjalanan waktu,” ujarnya.
Program Officer BLDF, Dandy Mahendra, mengungkapkan serial itu terinspirasi dari saran anak muda tentang dampak kerusakan lingkungan. Ide itu pun dikonsep menjadi tontonan yang menarik bagi gen Z dan milenial. “Film ini bukan untuk takut-takutin, tetapi agar membuka mata teman-teman kalau tidak menjaga lingkungan akan terjadi seperti di series 2125 Pesan dari Bumi,” kata Dandy.
Senada, Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menilai lingkungan terbilang isu berat bagi anak muda. Sebab, peran generasi tersebut sangat penting dalam menjaga bumi untuk generasi selanjutnya. Untuk itu, pihaknya menyusun skenario film dengan genre menarik dan menyentuh agar generasi penerus bisa sadar terhadap kelestarian lingkungan.
“Kami ingin membawa penonton ke masa depan pada 2125 dan menatap konsekuensi dari tindakan manusia terhadap lingkungan jika tidak menjaga bumi,” kata Diah.
Dia berharap, series tersebut membawa pesan untuk melakukan tindakan kecil yang berdampak positif terhadap kelestarian kehidupan dan menjadi warisan hijau bagi generasi mendatang. Sebab, setiap langkah sederhana secara konsisten bisa menjadi motor penggerak terutama bila dilakukan secara konsisten. “Makanya, BLDF terus berupaya menghadirkan program edukatif dan melibatkan generasi muda,” kata dia.
Konsisten Bergerak Bersama Pemuda
Sementara itu, Program Associate BLDF, Josephine Laura Sutanto, mengatakan pihaknya ingin generasi muda merasa terhubung dengan isu lingkungan dengan memberikan edukasi yang lebih personal, emosional, dan reflektif. Sebab, informasi yang ada sejauh ini kerap cenderung menggurui sehingga tidak menimbulkan kesadaran dan perubahan prilaku.
Untuk itu, serial tersebut membawa penonton ikut melihat kondisi bumi 100 tahun ke depan jika tidak melakukan perubahan saat ini. Apalagi, masalah perubahan iklim ini bukan isu yang jauh, tetapi justru sangat dekat dengan kehidupan dan mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
“Serial ini memvisualisasikannya secara kreatif, lebih nyata, dan imajinatif lewat genre berbeda. Sehingga, penonton juga ikut membayangkan, merasakan, dan mempertanyakan tentang masa depan dan langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini,” kata Josep.
Penyampaian pesan juga disampaikan lewat format serial karena anak muda sangat dekat dengan video pendek, terutama di Youtube. Terlebih, cerita yang disampaikan secara bertahap menjadi lebih hidup.
“Untuk itu, sebagai bentuk komunikasi kreatif kami secara konsisten menghadirkan serial web. Total ada enam series yang diluncurkan di saluran Youtube Siap Darling. Selain 2125, ada juga Prince Darling pada 2020, Jumpa dan Healing Trip (2023), Pusaka (2023), serta Kami Memohon (2024). Setiap film itu, kami hadirkan tema dan pendekatan berbeda mengikuti tren yang sedang relevan,” ujar dia.
Dia menambahkan, gerakan Siap Darling berjalan sejak November 2018 sebagai gerakan berbasis digital inisiasi BLDF yang fokus mengajak generasi muda lebih peduli terhadap isu lingkungan. Gerakan itu kombinasi antara konten di media sosial dan aktivitas langsung di lapangan.
Capaian gerakan tersebut hingga kini memiliki 4.191 Darling Squad yang tersebar di 404 universitas di berbagai daerah di Indonesia. Komunitas itu memiliki aksi yang beragam, mulai dari penanaman pohon, inisiatif restorasi, pelestarian lingkungan, hingga edukasi pengelolaan sampah.
Namun, dia menilai pencapaian terbesar gerakan itu melalui program One Action One Tree (OAOT). Kegiatan tahunan Siap Darling itu mengajak anak muda berkontribusi melalui aktivitas sehari-hari, seperti berlari, bersepeda, hingga bermedia sosial, yang bisa dikonversikan menjadi penanaman pohon.
Kegiatan itu menarik 650 peserta hingga penyelenggaraan tahun keenam yang terdiri dari bersepeda dengan capaian 67.941 kilometer, lari dengan jarak kumulatif 31.051 kilometer, dan 525 konten terpublikasi di Instagram.
Seluruh aktivitas tersebut terkonversi menjadi 60.321 bibit multipurpose tree species (MPTS) yang ditanam secara bertahap di kawasan lereng Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. “Artinya, kami melihat pencapaian terbesar Siap Darling ini ketika semakin banyak anak muda terpapar pesan dan benar-benar terlibat, mulai dari individu hingga menjadi komunitas. Dari aksi kecil menjadi dampak nyata dan berkelanjutan,” ujar dia.
Sementara secara khusus di serial web, ukuran keberhasilan itu terlihat dari jangkauan dan respons penonton guna memastikan pesan tersampaikan ke audiens yang luas. Total enam serial yang diproduksi itu ditonton lebih dari 32 juta kali dengan lebih dari 33 ribu likes dan 4 ribu komentar.
“Kami melihat komentar-komentar yang masuk dan penonton tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga mulai melakukan langkah kecil, seperti membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik. Bahkan, ada juga yang tertarik bergabung dengan komunitas hingga meminta bibit pohon untuk ditanam,” kata dia.
Dia pun turut memberikan bocoran adanya web series terbaru pada 2026. Namun, tema dan genre yang diusung masih tahap evaluasi dari serial sebelumnya hingga melakukan polling melalui akun Instagram @siapdarling. Langkah itu guna mengetahui tren yang anak muda bicarakan tahun ini. “Kami terus mencari cara agar pesan tersampaikan lebih segar, mudah dipahami, dan berdampak,” katanya.

Eksperimen AI
Berdasarkan gambaran bumi dalam series 2125: Pesan dari Bumi, tim Kronikdaily.com ikut mencoba melintasi waktu 100 tahun mendatang. Eksperimen itu menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan prompt memprediksi tren kondisi bumi pada 2126 tanpa mengarahkan aktivitas manusia saat ini yang positif maupun negatif.
Hasilnya, sistem tersebut memberikan gambaran bumi yang menjadi jauh lebih panas dari saat ini dengan cuaca ekstrem, gelombang panas lebih sering dan mematikan, dan permukaan laut naik hingga 1,5—2 meter.
Kondisi itu akan menimbulkan banjir bandang, kekeringan panjang, badai kuat, kepunahan banyak spesies, serta krisis air dan pangan yang parah. Prediksi tersebut merujuk data ilmiah terkini dari IPCC AR6 update 2025 dari Climate Action Tracker dan UNEP Emissions Gap Report.
Senada, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung, Irfan Tri Musri, menyebut gambaran kondisi bumi yang kelam itu bisa benar-benar terjadi sebagai akumulasi kebijakan dan sistem kapital yang bersifat ekstraktif dan eksploitatif. Bahkan, krisis iklim itu sudah mulai dirasakan saat ini dan berpotensi lebih ekstrem dalam 30—50 tahun ke depan.
“Kita hari ini kan dipaksa mengikuti sistem mekanisme pasar dengan kebutuhan sumber daya alam bukan hanya untuk kebutuhan individu, tetapi kebutuhan proses kapitalisasi. Hal itu memicu pengalihfungsian yang berujung kerusakan lingkungan,” kata Irfan.
Dampak persoalan itu akan mengancam berbagai aspek kehidupan, khususnya kesehatan manusia dan krisis pangan karena terganggunya siklus musim panen. “Untuk menjawab tantangan itu, negara seharusnya memberikan akses, dukungan, dan kepastian bagi masyarakat untuk mempergunakan SDA sebagai kebutuhan ketahanan pangan,” kata dia.
Pakar Komunikasi Universitas Lampung, Andy Corry Wardhani, menilai gerakan kampanye suatu permasalahan melalui film sebagai langkah kreatif. Namun, untuk penyampaian pesan lebih efektif harus melihat tujuan dan kesukaan sasarannya, seperti generasi muda yang lebih akrab menggunakan media sosial. “Saya melihat serial ini sudah sesuai keinginan, kebutuhan, dan kesukaan anak muda,” kata Corry.
Menurut dia, serial tersebut bisa terus dikembangkan karena lingkungan menjadi isu yang terbilang berat bagi anak muda, tetapi sangat dekat dengan kehidupan. “Makanya, perlu memberikan kesadaran kepada generasi saat ini agar lingkungan harus betul-betul dijaga,” katanya.









