Kronikdaily.com (Jakarta) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka peluang melanjutkan tren naik pada perdagangan hari ini, Kamis, 8 Januari 2026. Penguatan berlanjut setelah IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat menyentuh level 8.970. Indeks kemudian menguat 0,13 persen di posisi 8.944 pada penutupan perdagangan.
IHSG Tembus Rekor Tertinggi, Perdagangan 6 Januari 2026 Terbuka Menuju 8.900
Pergerakan positif tersebut dengan dukungan aktivitas beli yang masih terjaga. Ada 344 saham menguat, sementara 362 saham melemah.
Nilai transaksi tercatat Rp36,89 triliun, lebih tinggi dari hari sebelumnya. Kondisi itu mencerminkan minat pasar yang tetap solid.
Sinyal Teknikal Buka Jalan ke Level 9.000
Organisasi riset WH Project melihat sinyal teknikal IHSG masih konstruktif. Pola bullish flag terkonfirmasi pada perdagangan akhir pekan lalu.
Level Psikologis Jadi Tantangan Utama
Analis WH Project, William Hartanto, memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 8.900 hingga 9.000. Tren naik berpotensi berlanjut meski tidak berjalan mulus.
William menilai area 9.000 rawan fluktuasi dan aksi ambil untung. Kondisi tersebut membuka peluang koreksi sehat dalam jangka pendek.
Ia menyarankan pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebagai peluang akumulasi.
Rekomendasi Saham dari WH Project
WH Project merekomendasikan saham berfundamental kuat untuk dicermati. Pilihan saham meliputi ASII, EXCL, TLKM, dan PGAS.
Saham-saham tersebut memiliki likuiditas baik dan daya tahan saat volatilitas meningkat.
Analis Lain Ingatkan Risiko Koreksi
MNC Sekuritas melihat IHSG berada pada fase akhir penguatan jangka pendek. Secara teknikal, indeks bergerak dalam wave lanjutan menuju area 9.000.
Koreksi Sehat Tetap Perlu Diantisipasi
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai peluang naik masih terbuka. Namun, ia mengingatkan potensi koreksi jangka pendek tetap membayangi.
Area support IHSG berada di kisaran 8.777 hingga 8.879. Area tersebut menjadi zona penting untuk menjaga tren naik.
Aliran Dana Asing dan Saham Pilihan
BRI Danareksa mencatat net foreign buy Rp229 miliar di pasar reguler. Penguatan indeks ditopang saham komoditas nikel dan emas.
Analis BRI Danareksa, Reza Diofanda, menyoroti risiko kondisi overbought. Ia menyarankan kewaspadaan menjelang pengujian resistance 8.960–8.970.
Sementara BRI Danareksa merekomendasikan saham TOBA, ANTM, dan PPRI. MNC Sekuritas menyodorkan saham AUTO, ICBP, JSMR, dan WIIM.
Pelaku pasar harus mengatur manajemen risiko secara disiplin. Momentum positif tetap menarik, tetapi kehati-hatian menjadi faktor utama.











