Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Penjualan HP Lesu di 2025, ini Penyebabnya

×

Penjualan HP Lesu di 2025, ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini

Penurunan itu menjadi alarm bagi banyak pelaku usaha, terutama pedagang dan distributor ponsel.

PROYEKSI PENJUALAN HP. Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara. Pedagang HP menghadapi tantangan besar karena permintaan terus melemah. Bahkan, pada 2025 ini diprediksi bukan sebagai tahun yang cerah bagi pasar smartphone global. ANTARA FOTO/SEPTIANDA PERDANA
PROYEKSI PENJUALAN HP. Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara. Pedagang HP menghadapi tantangan besar karena permintaan terus melemah. Bahkan, pada 2025 ini diprediksi bukan sebagai tahun yang cerah bagi pasar smartphone global. ANTARA FOTO/SEPTIANDA PERDANA

Kronikdaily.com (Jakarta) — Penjualan handphone (HP) pada 2025 menghadapi tantangan besar karena permintaan terus melemah. Bahkan, penjualan HP pada 2025 ini diprediksi bukan sebagai tahun yang cerah bagi pasar smartphone global.

Counterpoint Research memangkas proyeksi pertumbuhan pasar smartphone dunia dari 4,2% menjadi hanya 1,9%. Penurunan itu menjadi alarm bagi banyak pelaku usaha, terutama pedagang dan distributor ponsel.

 Gejolak Tarif AS-China Jadi Faktor Utama

Akar masalah melemahnya penjualan HP berasal dari ketidakpastian tarif Presiden Donald Trump terhadap produk impor, termasuk smartphone.

BACA JUGA: Daftar HP RAM 8GB Harga Rp 2 Jutaan Terbaik 2025

Namun, Trump baru-baru ini menyepakati penangguhan tarif tinggi terhadap China selama 90 hari dalam pertemuan di Jenewa, Swiss. Meski begitu, tensi politik tetap memanas.

AS melarang negara sekutu dan perusahaan menggunakan chip AI buatan Huawei. China membalas dengan tuduhan pelanggaran kesepakatan terhadap AS. Kondisi itu memicu kekhawatiran soal tarif baru yang berpotensi kembali membebani industri smartphone.

 Biaya Produksi Naik, Konsumen Tertekan

Ketegangan itu berdampak langsung pada pabrikan besar seperti Apple dan Samsung. Keduanya berpotensi menaikkan harga karena biaya produksi ikut naik. Kondisi itu bisa membuat minat beli masyarakat turun, terutama di pasar berkembang. Hal itu membuat pedagang HP makin sulit menjual produk ke konsumen.

China sebagai pasar terbesar kedua dunia juga menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Counterpoint memperkirakan pertumbuhan pengapalan smartphone di negara tersebut nyaris tidak bergerak. Hal itu menjadi pukulan tambahan karena China biasanya menjadi penopang utama penjualan global.

IDC Ikut Pangkas Proyeksi Global

Selain Counterpoint, firma riset IDC juga merevisi prediksi pertumbuhan smartphone global 2025. Sebelumnya IDC memproyeksikan pertumbuhan 2,3%, tetapi kini hanya tinggal 0,6%. IDC menyebut ketidakpastian ekonomi global dan perang tarif sebagai hambatan utama yang menekan pengapalan HP secara global.

Pedagang HP Perlu Strategi Baru

Pedagang dan distributor harus menyesuaikan strategi. Situasi itu perlu membuat pedagang memperluas pemasaran digital dan menawarkan harga promosi. Hal itu bisa menjadi solusi. Sebab, jika kondisi tidak membaik, maka sepanjang 2025 bisa menjadi tahun terberat dalam industri smartphone dalam satu dekade terakhir.