Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Perang Dagang Makin Melebar, Begini Dampak Buruknya

×

Perang Dagang Makin Melebar, Begini Dampak Buruknya

Sebarkan artikel ini

Perusahaan logistik HLS Group mencatat ada 80 pelayaran yang batal dalam beberapa waktu terakhir.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)

Beijing (Kronikdaily.com) — Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kini berdampak besar pada sektor logistik global. Puluhan kapal kargo membatalkan pelayaran dari China ke negeri paman Sam karena pesanan terus menurun.

Perusahaan logistik HLS Group mencatat ada 80 pelayaran yang batal dalam beberapa waktu terakhir. Langkah itu muncul karena permintaan pengiriman dari China ke AS turun drastis akibat kenaikan tarif impor yang Presiden Donald Trump berlakukan.

Aliansi pelayaran besar seperti Ocean Network Express (ONE) juga menghentikan rute pelayaran penting. Rute itu sebelumnya melayani pelabuhan Qingdao, Ningbo, Shanghai, Pusan, Vancouver, dan Tacoma.

Jalur lain juga mencoret pelabuhan Wilmington, North Carolina dari daftar kunjungan. Kondisi itu mulai mengganggu rantai pasok global, dari aktivitas pelabuhan hingga truk, kereta api, dan logistik gudang.

Satu kapal kontainer biasanya membawa 8.000 hingga 10.000 TEUs. Jika 80 pelayaran batal, maka sekitar 640.000 hingga 800.000 kontainer tidak terkirim. Akibatnya, pelabuhan kehilangan pendapatan dan aktivitas bongkar muat menurun drastis.

CEO Sea-Intelligence, Alan Murphy, menilai blank sailing akan terus terjadi dalam waktu dekat. Terlebih, belum ada model akurat yang mampu memproyeksikan dampaknya secara menyeluruh.

Data pemesanan pengiriman internasional dari akhir Maret hingga awal April menunjukkan tren penurunan tajam. Barang seperti tekstil, mainan, pakaian jadi, dan aksesori mengalami penurunan pemesanan lebih dari 50 persen.

Bruce Chan, Direktur Logistik Global di Stifel, menjelaskan para pengecer kini bersikap lebih hati-hati. Trauma akibat kelebihan stok setelah pandemi membuat mereka menghindari risiko serupa. Hal itu membuat banyak perusahaan menunda pengiriman dan mengatur ulang strategi rantai pasok.

Operator pelayaran pun mulai menerapkan strategi efisiensi. Mereka membatalkan pelayaran, menghapus rute tertentu, memakai kapal lebih kecil, atau memperlambat perjalanan agar menghindari kerugian.

Strategi itu sempat berlaku saat pandemi Covid-19 dan memicu lonjakan biaya kontainer hingga US$30.000. Praktik itu sempat mendapat kritik karena memperparah kelangkaan pasokan global.

Di tengah penurunan ekspor China, Vietnam justru mendapat momentum. Tarif pengiriman laut dari Vietnam melonjak 43 persen sejak akhir Maret. Hal itu menandakan lonjakan permintaan dari negara tersebut.

Tarif Tambahan Ditunda

Peter Sand, analis utama di Xeneta, menyebut peningkatan permintaan itu terjadi karena AS menunda pemberlakuan tarif tambahan untuk negara selain China selama 90 hari. Keputusan itu membuat eksportir Vietnam mendapat lonjakan permintaan jangka pendek.

Tiongkok pun kini menghadapi tantangan besar karena dominasi logistiknya terganggu dampak perang dagang serta pergeseran arus barang global.