Jakarta (Kronikdaily.com) — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan produksi beras nasional pada periode April hingga Juni 2025 berpotensi turun signifikan.
Berdasarkan data terbaru, BPS memperkirakan volume produksi hanya mencapai 10,15 juta ton. Angka itu menurun sekitar 1,04 juta ton atau 9,29 persen dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 11,19 juta ton.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan penurunan produksi itu sejalan dengan menyusutnya luas panen. Selama April sampai Juni 2025, luas panen hanya 3,38 juta hektare daripada tahun lalu yang mencapai 3,7 juta hektare. Luas tersebut turun 0,32 juta hektare atau 8,56 persen.
BACA JUGA: Banyak Perusahaan Tak Naikkan Gaji Karyawan Sesuai Aturan, ini Penyebabnya
Pada Maret 2025, produksi beras nasional justru melonjak drastis. BPS mencatat volume beras konsumsi mencapai 5,14 juta ton. Peningkatan itu berasal dari produksi gabah kering giling (GKG) 8,93 juta ton. Luas panen padi pada bulan yang sama mencapai 1,67 juta hektare, meningkat 50,6 persen dari Maret 2024 yang hanya 1,11 juta hektare.
Secara keseluruhan, produksi beras nasional selama Januari hingga Juni 2025 bisa menyentuh 18,76 juta ton. Angka itu mengalami kenaikan 1,89 juta ton atau tumbuh 11,17 persen dari periode yang sama tahun 2024, yaitu 16,88 juta ton.
Pudji juga menyampaikan luas panen semester pertama 2025 bisa mencapai 6,25 juta hektare, naik 11,9 persen dari tahun lalu. Namun, ia mengingatkan angka itu masih bersifat proyeksi. Perubahan cuaca atau serangan hama bisa memengaruhi hasil akhir.
Sebaran Wilayah Panen
Lokasi panen terbesar tersebar di berbagai wilayah. Di Jawa, produksi tertinggi berasal dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Sumatera, panen berlangsung di Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sementara itu, Sulawesi berkontribusi dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Wilayah lain yang menyumbang produksi adalah Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Meski tren semester pertama terlihat positif, anjloknya potensi produksi pada kuartal kedua perlu jadi perhatian. Pemerintah perlu menjaga kestabilan produksi agar tidak berdampak pada harga dan ketahanan pangan nasional di akhir tahun.











