Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Strategi Investasi Saat Gejolak Politik dan Ekonomi 2025, ini Saran Para Ahli

×

Strategi Investasi Saat Gejolak Politik dan Ekonomi 2025, ini Saran Para Ahli

Sebarkan artikel ini

Situasi itu semakin kompleks karena pengaruh tekanan eksternal dari dinamika global.

Investasi emas di Antam, UBS, Pegadaian, atau Galeri24. Dok Antara
Investasi emas di Antam, UBS, Pegadaian, atau Galeri24. Dok Antara

Jakarta (Kronikdaily.com) — Tahun 2025 menjadi momen penting dalam peta ekonomi dan politik Indonesia. Transisi kepemimpinan nasional membawa dampak besar terhadap arah pasar keuangan dan keputusan strategi investasi. Situasi itu semakin kompleks karena pengaruh tekanan eksternal dari dinamika global.

Beberapa faktor utama, seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), ketegangan geopolitik, perang tarif, dan perubahan tren investasi dunia ikut membentuk lanskap ekonomi domestik saat ini.

CEO Sucor Asset Management, Jemmy Paul Wawointana, menegaskan saat ini investor berada di titik krusial. Gabungan antara transisi pemerintahan dan ketidakpastian global membuat pasar berada di persimpangan penting.

“Kita menghadapi kombinasi antara perubahan kepemimpinan dalam negeri dan kebijakan internasional. Mulai dari tarif baru AS hingga fluktuasi suku bunga global,” ujar Jemmy dalam siaran pers The Sucor Stage Market Outlook 2025: Navigating Investments in New Regime.

Dia menekankan pentingnya memahami konteks global dan domestik sebelum membuat keputusan investasi. Ia menyarankan investor tetap tenang dan fokus pada strategi jangka panjang.

Potensi Obligasi

Sementara itu, Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, memberikan pandangan positif terhadap instrumen obligasi. Dia melihat potensi menarik dari pasar obligasi Indonesia meski suku bunga global masih fluktuatif.

“Kepemilikan asing di obligasi saat ini hanya sekitar 14 persen. Artinya, tekanan jual dari investor luar tidak terlalu kuat. Itu membuat pasar obligasi lebih stabil meski kondisi global tidak menentu,” ujarnya.

Dia yakin obligasi tetap menjadi instrumen investasi menarik di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Stabilitas dan potensi imbal hasilnya masih cukup menjanjikan bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Pakar ekonomi syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Karim, menyoroti pentingnya pemahaman sebelum terjun berinvestasi. Ia mengingatkan agar investor tidak asal ikut-ikutan dalam menaruh dana.

“Jangan hanya terbawa arus. Kita harus paham fundamental lebih dulu dan amati kondisi pasar dengan cermat,” kata dia.

Menurutnya, investor perlu menimbang risiko dan peluang secara rasional. Ia menyarankan setiap langkah investasi berdasarkan analisis mendalam, bukan sekadar mengikuti tren.

Ketiga narasumber tersebut sepakat 2025 adalah tahun transisi penting dalam ekonomi Indonesia. Mereka menyarankan agar investor tetap waspada, tetapi juga tidak takut mengambil peluang. Keseimbangan antara pengetahuan, strategi, dan pemantauan pasar jadi kunci utama dalam berinvestasi saat ini.