Jakarta — Tim ilmuwan internasional menemukan fosil yang menjadi bukti nenek moyang manusia modern. Peneliti menemukan manusia purba Paranthropus robustus di Gua Swartkrans, Afrika Selatan.
Fosil itu berusia sekitar 2 juta tahun, tim ilmuwan menemukannya bersama perkakas batu serta tulang yang mereka gunakan untuk bertahan hidup. Spesies fosil tersebut hidup berdampingan dengan Homo ergaster, nenek moyang langsung manusia modern.
Penemuan itu melibatkan peneliti dari Institut Studi Evolusi di Universitas Witwatersrand (Wits University). Termasuk Travis Pickering, Matthew Caruana, Marine Cazenave, Ron Clarke, Jason Heaton, A.J. Heile, Kathleen Kuman, dan Dominic Stratford.
Fosil ini berasal dari individu dewasa muda, kemungkinan perempuan, dengan tinggi sekitar 1 meter dan berat sekitar 27 kg. Ukurannya lebih kecil dari Australopithecus afarensis atau yang dikenal dengan kerangka “Lucy” dari Ethiopia dan Homo floresiensis atau “Hobbit” dari Indonesia.
Paranthropus robustus memiliki postur tegak seperti manusia modern. Namun, ukurannya yang kecil membuatnya rentan terhadap predator seperti macan tutul bergigi tajam dan hyena raksasa.
Bekas gigitan yang tim ilmuwan temukan pada fosil ini, mengindikasikan kemungkinan serangan dari hewan pemangsa. Tim ilmuwan juga menemukan bukti bahwa spesies ini menggunakan alat dari batu dan tulang untuk berburu serta mengolah makanan.
Perkakas ini mereka gunakan untuk menyembelih hewan, menggali akar-akaran, dan mencari serangga bawah tanah. Namun, masih banyak perdebatan apakah Paranthropus robustus atau Homo ergaster yang membuat dan menggunakan alat-alat tersebut.
Untuk memahami lebih dalam, para peneliti melakukan CT-scan pada struktur tulang fosil. Analisis ini akan mengungkap lebih banyak informasi tentang pola pertumbuhan dan perkembangan spesies ini.
Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang evolusi manusia dan bagaimana spesies purba beradaptasi dengan lingkungan mereka.








