Kronikdaily.com (Jakarta) — Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan alasan utama mengapa banyak toko ritel modern banyak yang tutup gerai secara permanen. Tren toko ritel modern tutup muncul akibat tiga faktor utama yang kini terjadi di lapangan.
Minim Inovasi dan Pengalaman Belanja
Budi mengatakan banyak ritel modern tidak menghadirkan pengalaman menarik bagi konsumen. Kebanyakan hanya fokus pada jualan barang. “Kalau toko hanya untuk belanja, tanpa pengalaman atau suasana menarik, pasti akan kalah dari UMKM,” ujar Budi di Jakarta.
Ia mencontohkan, konsumen saat ini lebih suka berbelanja di tempat yang juga menyediakan hiburan, makanan, atau ruang berkumpul.
Perubahan Gaya Belanja Masyarakat
Selain soal inovasi, dia mengungkapkan perubahan gaya belanja masyarakat juga ikut berpengaruh besar. Konsumen kini lebih memilih belanja harian daripada bulanan. Akibatnya, toko besar kehilangan pelanggan.
“Masyarakat sekarang belanja sedikit-sedikit. Mereka lebih sering ke warung atau toko kecil terdekat,” ucapnya.
Ritel Perlu Transformasi Digital dan Konsep Baru
Dia menegaskan pelaku ritel harus mengikuti perkembangan zaman. Mereka harus menciptakan ruang belanja yang lebih menarik dan multifungsi. Meski banyak toko tutup, Kementerian Perdagangan tetap yakin sektor ritel Indonesia akan tumbuh secara positif. “Kalau mal hanya jualan, tanpa tempat nongkrong atau makan, pasti sepi. Itu harus diubah,” katanya.
Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag, Septo Soepriyatno, menyatakan pihaknya melihat peluang pertumbuhan di tengah tantangan. “Kami tetap optimis ritel Indonesia tumbuh moderat jika ekosistem industri mendukung,” jelas Septo.
Strategi Pemerintah Dukung Ritel Nasional
Kemendag berencana memperbaiki ekosistem perdagangan dengan beberapa strategi untuk mendukung ritel modern agar tetap bersaing. Langkah tersebut meliputi:
Evaluasi Regulasi Perdagangan: Kemendag akan menyelaraskan aturan distribusi barang konvensional dan digital agar pelaku usaha bisa bersaing adil.
Kolaborasi dengan Pelaku Usaha: Pemerintah akan rutin bertemu pelaku ritel untuk membahas tantangan dan peluang terkini.
Pendampingan Berbasis Data: Kemendag akan memberi pelatihan dan dukungan data kepada pelaku usaha agar mampu beradaptasi di era digital.
“Ritel modern butuh langkah cepat agar tidak tertinggal. Perubahan tren belanja dan kebiasaan konsumen menuntut inovasi nyata,” kata dia.











