Kronikdaily.com (Jakarta) — Bursa Efek Indonesia mencatat peningkatan minat perusahaan untuk melantai di bursa. Hingga Desember 2025, sembilan perusahaan masuk antrean IPO.
Pipeline IPO itu mencerminkan minat pasar modal yang tetap terjaga. BEI menilai kualitas calon emiten menjadi fokus utama.
Simak 3 Pilihan Waktunya Jika BEI Perpanjang Jam Perdagangan Saham
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, memaparkan komposisi aset calon emiten. Ada enam perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar. Kategori itu menunjukkan skala bisnis besar.
Dua perusahaan tercatat memiliki aset kecil di bawah Rp50 miliar. Satu perusahaan masuk kategori aset menengah.
Simak Berita Kategori Ekonomi Lainnya
Dana IPO Tembus Rp18 Triliun
BEI mencatat 26 perusahaan melantai sepanjang 2025. Total dana yang berhasil terhimpun mencapai Rp18,11 triliun. Capaian itu menunjukkan aktivitas pasar perdana tetap berjalan stabil. Investor masih mencermati peluang dari emiten baru.
Dari sembilan perusahaan dalam pipeline, tiga berasal dari sektor keuangan. Sektor energi, industri, teknologi, dan transportasi masing-masing menyumbang satu perusahaan.
Dua perusahaan lainnya berasal dari sektor bahan baku. Komposisi itu menunjukkan diversifikasi sektor yang cukup seimbang.
Namun, BEI menyesuaikan target IPO 2025 dari 66 menjadi 45 perusahaan.
Hingga pertengahan Desember, jumlah realisasi masih berada di angka 26 perusahaan. OJK menilai revisi target mencerminkan fokus pada kualitas, bukan sekadar kuantitas.
OJK Tekankan Fundamental dan Tata Kelola
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menegaskan pentingnya fundamental kuat. OJK dan BEI mendorong emiten memiliki tata kelola baik dan bisnis berkelanjutan.
Langkah itu bertujuan melindungi investor dan menjaga kredibilitas pasar modal. Sebagian calon emiten memilih menunda IPO. Mereka mempertimbangkan kondisi pasar dan strategi bisnis.
OJK menilai penundaan itu sebagai dinamika wajar. Proses tersebut mendukung pendalaman pasar jangka panjang. Pasar modal Indonesia terus berkembang dengan pendekatan yang lebih selektif dan berorientasi kualitas.











