Washington (Kronikdaily.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada Rabu (2/4/2025), yang menyebutnya sebagai Liberation Day.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan tarif itu akan menghidupkan kembali industri manufaktur dan menciptakan lapangan kerja domestik.
Trump menetapkan dua jenis tarif baru, yaitu tarif universal 10 persen untuk semua barang impor dan tarif resiprokal untuk sekitar 90 negara.
BACA JUGA: Gelombang PHK Penyebab Utama Perputaran Uang Lebaran 2025 Anjlok
Ia mengklaim kebijakan itu akan menjadikan “Amerika kaya kembali” dan meningkatkan pendapatan negara.
Namun, para ekonom justru memandang sebaliknya dari Liberation Day Donald Trump. Mereka memperingatkan kebijakan tarif itu berpotensi meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA: Cegah Boncos Setelah Lebaran 2025, ini Cara Cerdas dan Bijak Mengatur THR dan Gaji
Perusahaan AS yang mengimpor barang akan menanggung tarif tersebut dan kemungkinan besar akan menaikkan harga jual ke konsumen.
Kenaikan harga itu dapat menggerus daya beli masyarakat dan memperparah tekanan inflasi. Belanja konsumen menyumbang sekitar 70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) AS sehingga risiko perlambatan ekonomi makin besar.
Para analis memperingatkan potensi terjadinya stagflasi, yaitu kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah.
Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, memperkirakan tarif itu bisa menurunkan PDB AS hingga 2 persen. Ia juga memprediksi tingkat pengangguran bisa melonjak.











