Kronikdaily.com (Jakarta) — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor sawit Indonesia meningkat tajam pada Maret 2025. Indonesia ekspor 2,88 juta metrik ton minyak sawit dan produk turunannya ke pasar internasional. Volume ekspor itu naik dari 2,56 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga mengalami peningkatan signifikan. Sepanjang Maret 2025, produksi CPO mencapai 4,39 juta ton. Jumlah itu meningkat daripada Februari 2025 yang hanya 3,79 juta ton.
Meskipun produksi dan ekspor meningkat, stok akhir minyak sawit justru menyusut. Pada akhir Maret 2025, stok tercatat 2,04 juta ton, turun dari Februari sebelumnya. Penurunan stok itu menunjukkan peningkatan permintaan ekspor dan konsumsi domestik secara bersamaan.
Produk Hilir Dominasi Ekspor Minyak Sawit Indonesia
BACA JUGA: Sistem Tracing Sawit Nasional Perkuat Daya Saing di Pasar Global
Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono, mengungkapkan mayoritas ekspor sawit kini berbentuk produk olahan. Produk Refined Palm Oil (RPO) mendominasi pengiriman ke luar negeri. RPO berasal dari minyak sawit mentah (CPO) yang telah melalui proses penyulingan atau refining.
Selain RPO, ekspor produk oleokimia juga mengalami pertumbuhan signifikan. Oleokimia sebagai bahan dasar industri sabun, kosmetik, dan deterjen. Produk lainnya juga naik, seperti Refined Palm Kernel Oil (Refined PKO), Crude Palm Kernel Oil (Crude PKO), dan biodiesel.
Tren Positif Ekspor
Kenaikan ekspor itu imbas permintaan global yang tinggi terhadap produk ramah lingkungan. Negara tujuan utama ekspor mencakup kawasan Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Pasar global kini lebih memilih produk sawit olahan karena nilainya lebih tinggi daripada bahan mentah.











