Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Kejar Target Transisi Energi Usung Roadmap Hidrogen dan Amonia

×

Kejar Target Transisi Energi Usung Roadmap Hidrogen dan Amonia

Sebarkan artikel ini

RHAN juga menargetkan pemanfaatan hidrogen dalam tiga fokus utama, yaitu mendukung pengembangan energi baru terbarukan.

Pekerja mengecek tabung yang berisikan hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tanjung Priok, Jakarta Utara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Pekerja mengecek tabung yang berisikan hidrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tanjung Priok, Jakarta Utara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Jakarta (Kronikdaily.com) — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi meluncurkan roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) sebagai tindak lanjut dari Strategi Hidrogen Nasional (SHN).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan roadmap itu mencakup seluruh rencana pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia hingga 2060.

“Kami mengidentifikasi 215 rencana aksi dalam roadmap itu yang mencakup sektor energi, industri, dan transportasi. Peta itu menjadi pedoman bagi pemangku kepentingan untuk mengembangkan ekosistem hidrogen di Indonesia dan dunia,” kata Eniya dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES), yang berlangsung di JCC, beberapa waktu lalu.

RHAN juga menargetkan pemanfaatan hidrogen dalam tiga fokus utama, yaitu mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Selain itu, mendukung dekarbonisasi dengan pasar domestik dan sebagai komoditas ekspor hidrogen dan turunannya ke pasar global.

Dokumen itu menetapkan pendekatan strategis yang terintegrasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan hidrogen dan amonia di sektor energi, industri, dan transportasi. Tujuan utamanya untuk mendukung pencapaian target emisi nol bersih pada 2060 melalui transisi energi dan dekarbonisasi.

Rencana suplai hidrogen Indonesia melibatkan energi fosil, seperti pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan listrik. Caranya menggunakan teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk menghasilkan hidrogen rendah emisi. Selain itu, pemanfaatan energi terbarukan, seperti tenaga angin, mikrohidro, dan limbah biomassa dari sektor pertanian dan perkebunan juga untuk memproduksi hidrogen.

Hidrogen dan amonia berpotensi menjadi komoditas yang sangat pasar global butuhkan, termasuk di Jepang, Uni Eropa, Arab Saudi, dan Kanada.

Tiga Fase Pengembangan

Roadmap itu juga menetapkan tiga fase pengembangan ekosistem hidrogen dan amonia Indonesia. Fase pertama mulai 2025 hingga 2034 akan fokus pada proyek percontohan, regulasi, skema insentif, pembiayaan, pengembangan infrastruktur, dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Pada fase itu, kapasitas electrolyzer akan mencapai 734 MW pada 2030, dengan blending hidrogen dalam jaringan gas diproyeksikan mencapai 20%.

Pada fase kedua (2035-2045), kapasitas produksi hidrogen akan meningkat secara komersial. Blending hidrogen dalam jaringan gas akan mencapai 40% dan kapasitas pembangkit listrik berbasis amonia mencapai 2,0 GW pada 2045. Pada fase itu, hidrogen juga akan meluas untuk sektor baja dan pupuk, mendukung diversifikasi penggunaan energi rendah karbon.

Fase terakhir, yaitu akselerasi dan berkelanjutan pada 2045 hingga 2060. Targetnta pencapaian blending hidrogen 100% dalam jaringan gas nasional. Kapasitas pembangkit listrik berbasis hidrogen bisa mencapai 25,3 GW pada 2060. Sementara pembangkit listrik berbasis amonia di PLTU akan meningkat hingga 8,4 GW.