Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Pendapatan Tergerus dan Cicilan Naik Konsumen Indonesia Kian Terjepit

×

Pendapatan Tergerus dan Cicilan Naik Konsumen Indonesia Kian Terjepit

Sebarkan artikel ini
KEUANGAN RUMAH TANGGA MELEMAH. Konsumen berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/8). Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Mei 2025 mencatat pelemahan signifikan pada struktur keuangan rumah tangga. ANTARA FOTO/R. REKOTOMO
KEUANGAN RUMAH TANGGA MELEMAH. Konsumen berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/8). Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Mei 2025 mencatat pelemahan signifikan pada struktur keuangan rumah tangga. ANTARA FOTO/R. REKOTOMO

Kronikdaily.com (Jakarta) — Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Mei 2025 mencatat pelemahan signifikan pada struktur keuangan rumah tangga. Pendapatan masyarakat menyusut sedangkan porsi untuk membayar cicilan meningkat.

Rasio konsumsi masyarakat turun ke 74,3 persen pada Mei. Angka itu lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat 74,8 persen. Sementara itu, rasio pendapatan untuk membayar cicilan utang naik menjadi 10,8 persen. Kenaikan itu melanjutkan tren dari April yang berada di posisi 10,5 persen.

Kondisi tabungan rumah tangga tercatat naik tipis ke 14,9 persen. Kenaikan itu menunjukkan sikap hati-hati masyarakat dalam menyikapi kondisi ekonomi.

BACA JUGA: Ponpes Riyadus Solihin Resmikan RS Mart, Dorong Ekonomi Umat dan Kemandirian Santri

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan penurunan konsumsi terjadi di hampir semua kelompok pengeluaran. “Konsumen cenderung menahan pengeluaran dan memperbesar alokasi untuk menabung,” ujar Denny dalam rilis resmi BI.

 Konsumsi Kelas Menengah dan Atas Menyusut

Hanya kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan yang mencatat konsumsi stabil di 71,3 persen. Kelompok lain menurunkan konsumsi karena tekanan utang meningkat.

Kelompok dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta mencatat kenaikan tabungan ke 14,9 persen. Sementara itu, kelas menengah dengan pengeluaran Rp4,1 juta–Rp5 juta menabung lebih banyak, yaitu 15,3 persen.

Bank Indonesia juga melaporkan turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 117,5 pada Mei 2025. Angka itu terendah sejak September 2022.

Penurunan itu akibat dua indikator utama, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat itu (IKE) turun ke 106,0 dari 113,7. Kedua adalah Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah ke 129,0 dari sebelumnya 129,8. Responden menilai kondisi ekonomi semakin berat. Penghasilan stagnan dan lapangan kerja makin sulit didapatkan.

 Optimisme Penghasilan Mulai Pudar

Konsumen dengan pengeluaran Rp1 juta–Rp2 juta masih menyimpan optimisme terhadap penghasilan ke depan. Mereka mencatat indeks 132,8 untuk ekspektasi penghasilan enam bulan mendatang. Namun, hampir semua kelompok lain mencatat penurunan keyakinan terhadap peningkatan penghasilan.

Kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta mencatat indeks 120,5. Kelas menengah atas dengan pengeluaran Rp4,1 juta–Rp5 juta mencatat 117,7. Meski masih di zona optimis, angkanya turun dibanding bulan lalu.

 Belanja Barang Tahan Lama Turut Melemah

Keyakinan masyarakat terhadap pembelian barang tahan lama juga turun pada Mei. Hanya kelompok dengan pengeluaran Rp1 juta–Rp2 juta yang menunjukkan kenaikan indeks ke 100,7. Kelompok pengeluaran lainnya, terutama kelas menengah atas, justru mengalami penurunan signifikan. Kelompok di atas Rp5 juta mencatat indeks 109,0 dan kelompok Rp4,1 juta–Rp5 juta di angka 101,1.

Generasi Muda Tahan Belanja, Waspadai Dampaknya

Responden berusia 20–50 tahun masih mencatat keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama. Namun, angkanya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan generasi usia produktif mulai menahan belanja dan memilih menabung atau melunasi cicilan.

Kondisi keuangan masyarakat saat itu menunjukkan tekanan yang nyata. Konsumsi menurun, utang meningkat, dan tabungan hanya naik sedikit. Pemerintah perlu menyasar insentif lebih tepat sasaran, terutama bagi kelas menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.