Jakarta (Kronikdaily.com) — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di triwulan I-2025 di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Menurut Sri Mulyani, ketidakpastian global meningkat karena kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Stabilitas sistem keuangan triwulan I-2025 tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK virtual.
BACA JUGA: Kejar Target Transisi Energi Usung Roadmap Hidrogen dan Amonia
Kebijakan Trump memicu eskalasi perang dagang sehingga menimbulkan gejolak ekonomi global, termasuk ketidakpastian investasi antarnegara.
KSSK yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS terus memperkuat koordinasi untuk memitigasi dampak global. “Kami akan terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian nasional,” ujarnya.
Sri Mulyani mengungkapkan perang tarif berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, China, dan dunia. Aliran modal global pun bergeser ke aset-aset aman seperti emas, serta instrumen keuangan di Eropa dan Jepang.
Sebaliknya, negara berkembang mengalami aliran modal keluar yang menyebabkan tekanan pada nilai tukar mereka. “Perang tarif juga memukul rantai pasok global, memperbesar ketidakpastian perdagangan dan memperburuk sentimen pelaku usaha,” kata dia.
Ekonomi Indonesia Optimistis Tetap Tumbuh
Meski demikian, dia optimistis ekonomi Indonesia tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah gejolak global. Ia menilai Indonesia mampu mengendalikan dampak negatif dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 tetap positif dengan adanya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Pencairan tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, dan insentif pemerintah mendorong daya beli masyarakat saat Idulfitri 1445 H.
Selain itu, proyek strategis nasional dan konstruksi properti swasta membantu meningkatkan kinerja investasi di awal tahun ini. “Investasi swasta tetap solid, tercermin dari aktivitas manufaktur Indonesia yang masih bertahan di zona ekspansif,” katanya.
Dia menambahkan, impor barang modal seperti alat berat juga meningkat, menunjukkan kuatnya investasi non-bangunan. Ekspor Indonesia juga menunjukkan tren positif, khususnya pada Maret 2025, terdorong produk CPO, besi baja, serta mesin listrik.
Pemerintah aktif membuka peluang ekspor baru ke ASEAN+3, negara-negara BRICS, dan kawasan Eropa sebagai strategi antisipasi. Landasan domestik yang kuat dan strategi perdagangan adaptif itu bisa membuat pertumbuhan ekonomi tahun ini stabil. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 akan tetap sekitar 5 persen,” kata dia.











