Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Perputaran Uang Lebaran 2025 Turun 12,28 Persen, Kok Bisa?

×

Perputaran Uang Lebaran 2025 Turun 12,28 Persen, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini

Kondisi itu mencerminkan daya beli yang melemah dan kehati-hatian rumah tangga dalam membelanjakan uang.

Aktivitas kendaraan pemudik lebaran 2025 di Pelabuhan Bakauheni, Lampung terpantau landai, Sabtu (29/3/2025). (ANTARA/Riadi Gunawan)
Aktivitas kendaraan pemudik lebaran 2025 di Pelabuhan Bakauheni, Lampung terpantau landai, Sabtu (29/3/2025). (ANTARA/Riadi Gunawan)

Jakarta (Kronikdaily.com) — KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat perputaran uang selama Lebaran 2025 hanya mencapai Rp137,9 triliun. Angka tersebut turun signifikan dari Lebaran 2024 yang menyentuh Rp157,3 triliun.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyoroti penurunan perputaran uang selama Lebaran 2025. Ia menyebut total transaksi selama Idul Fitri tahun ini hanya mencapai Rp137,97 triliun. Nilai itu turun 12,28 persen dari Lebaran 2024 yang mencapai Rp157,3 triliun.

Penurunan itu menjadi sinyal pelemahan konsumsi masyarakat. Kondisi itu mencerminkan daya beli yang melemah dan kehati-hatian rumah tangga dalam membelanjakan uang. “Biasanya Lebaran memicu lonjakan konsumsi. Tapi sekarang justru kontraksi yang muncul,” kata Adik, Minggu (6/4/2025).

Dia menambahkan, konsumsi rumah tangga yang lemah sangat terkait dengan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) di banyak sektor. Pendapatan rumah tangga menurun sehingga masyarakat menahan pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok.

Padahal, momen Lebaran biasanya mendorong konsumsi besar, seperti pakaian baru, makanan khas, bingkisan, hingga biaya mudik. Kini masyarakat memilih menunda belanja dan fokus pada kebutuhan pokok. Selain itu, jumlah pemudik juga turun. Hal itu menjadi indikator langsung lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat.

“Penurunan pemudik berdampak ke banyak sektor. Transportasi, UMKM daerah, hingga hotel ikut lesu. Efek ganda ekonomi dari mudik jadi sangat terbatas tahun ini,” ujarnya.

Alarm Awal

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan deflasi nasional 0,48 persen secara bulanan dan 0,09 persen secara tahunan. Hal itu juga membuktikan lemahnya permintaan agregat, padahal Lebaran biasanya menciptakan inflasi musiman.

Deflasi pada masa Lebaran menunjukkan anomali ekonomi yang perlu pemerintah waspadai. Pemerintah perlu segera menyusun strategi pemulihan yang konkret.

Dia menyarankan agar pemerintah menguatkan jaring pengaman sosial, memberi insentif untuk UMKM, serta menciptakan lapangan kerja produktif. Sebab, jika kondisi itu terus terjadi, maka risiko pelemahan konsumsi akan berlanjut ke kuartal berikutnya. Hal itu bisa mengganggu pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025.

“Penurunan perputaran uang saat Lebaran bukan sekadar isu musiman. Itu alarm awal untuk pemerintah dan pelaku usaha,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga konsumsi masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Stabilitas pasar tenaga kerja juga perlu menjadi prioritas untuk menjaga daya beli di masa depan.