Kronikdaily.com (Jakarta) — Organisasi dan lembaga ekonomi dunia serempak memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2025. Tekanan global, termasuk tarif Trump dan pelemahan ekspor komoditas menjadi penyebab utama revisi tersebut.
OECD Revisi Pertumbuhan RI, Soroti Ketegangan Global
OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2025. Angka itu turun 0,2 persen dari prediksi awal 4,9 persen. Laporan tersebut juga memperkirakan pertumbuhan 2026 hanya naik tipis ke 4,8 persen.
Lembaga tersebut menyoroti naiknya tensi perdagangan global serta jatuhnya harga komoditas sebagai hambatan utama ekspor dan pendapatan nasional. Ketidakpastian itu bisa memicu pelemahan rupiah dan memperbesar defisit transaksi berjalan.
Dampak China dan Mata Uang Lemah Jadi Risiko Tambahan
Ekonomi Indonesia bisa rawan terhadap perlambatan ekonomi China. Sebagai mitra dagang utama, penurunan permintaan dari China bisa menggerus ekspor komoditas RI. OECD juga memperkirakan inflasi akan naik akibat depresiasi rupiah dan berakhirnya diskon tarif listrik sementara.
BI Pangkas Target Pertumbuhan
Senada, Bank Indonesia turut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 dari 4,7%—5,5% menjadi 4,6%—5,4%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan revisi itu mempertimbangkan tekanan global meski outlook ekonomi dunia yang justru naik menjadi 3 persen.
“Pertumbuhan masih bertumpu pada konsumsi dan investasi, tetapi ketidakpastian global membayangi. Kebijakan fiskal tetap menjadi alat utama menjaga momentum ekonomi,” kata Perry.
Bank Dunia Tekankan Risiko Eksternal dan Reformasi
Pada laporan April 2025, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan RI dari 5,1% menjadi 4,7%. Lembaga itu mencatat risiko dari harga komoditas yang melemah dan ketidakpastian perdagangan internasional.
Meski begitu, Bank Dunia menilai reformasi dan stimulus fiskal dari pemerintahan baru bisa menjaga stabilitas ekonomi. Investasi juga bisa meningkat seiring kehadiran lembaga pembiayaan baru seperti Danantara.
Sementara konsumsi rumah tangga tetap solid meski tertahan minimnya lapangan kerja berkualitas. Bank Dunia memperkirakan defisit APBN akan melebar menjadi 2,7% dari PDB dan utang pemerintah stabil di 40,1% PDB.
IMF Juga Pangkas Proyeksi RI
Dana Moneter Internasional (IMF) ikut merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7%. Pada World Economic Outlook April 2025, IMF juga menurunkan outlook negara ASEAN-5 menjadi 3%.
Tarif dagang Trump yang bersifat resiprokal bisa memangkas perdagangan global dari 3,8% menjadi 1,7%. IMF menyebut tarif itu sebagai guncangan negatif yang menekan permintaan eksternal negara berkembang.
Revisi Pertumbuhan Lebih Realistis
Bhima Yudhistira dari Celios menilai koreksi OECD wajar mengingat tantangan ekonomi di paruh kedua 2025. Konsumsi pasca-Lebaran berpotensi melemah, sedangkan stimulus pemerintah belum berdampak besar.
Dia juga mengkritik insentif tarif tol dan maskapai karena hanya menyasar kelompok menengah ke atas. “Stimulus tidak merata dan belum cukup untuk dorong konsumsi luas,” kata Bhima.
Proyeksi Swasta Lebih Konservatif
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 hanya 4,5%—5%. Prospek pelonggaran suku bunga Bank Indonesia bisa muncul jika ketidakpastian global mereda.
Dia memperkirakan BI bisa memangkas suku bunga hingga 50 basis poin tahun ini, terutama jika The Fed melunak. Langkah itu membawa harapan untuk menjaga daya beli dan permintaan domestik.
Sementara itu, Andry Asmoro dari Bank Mandiri menyebut ekonomi Indonesia masih tangguh meski melambat. Ia menilai perlambatan kuartal pertama sebagai proses normalisasi menuju pertumbuhan yang lebih seimbang.
Pertumbuhan PDB kuartal I/2025 sebesar 4,87%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,02%. Namun, dia menilai arah kebijakan fiskal dan moneter masih positif dan stabil. “Bank Mandiri memproyeksikan ekonomi RI tumbuh 4,93% sepanjang 2025,” kata dia.











