Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Prediksi Sri Mulyani Terkait Dampak Tarif Impor Donald Trump

×

Prediksi Sri Mulyani Terkait Dampak Tarif Impor Donald Trump

Sebarkan artikel ini

Presiden AS itu menerapkan tarif balasan terhadap negara-negara yang dianggap surplus dalam neraca perdagangan dengan Amerika.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)

Jakarta (Kronikdaily.com) — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global. Ia menyebut langkah Trump mendorong perubahan besar pada tatanan ekonomi dunia saat ini.

Dia menilai guncangan global terjadi akibat sikap unilateralisme Trump. Presiden AS itu menerapkan tarif balasan terhadap negara-negara yang dianggap surplus dalam neraca perdagangan dengan Amerika.

“Kita harus waspada karena struktur global sedang terguncang hebat,” ujar Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa, di kantor Kementerian Keuangan.

BACA JUGA: Stabilitas Jasa Keuangan Diklaim Terjaga di Tengah Tantangan Global

Ketegangan meningkat setelah Tiongkok membalas kebijakan tarif impor Trump. Perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu kini berpengaruh pada rantai pasok global dan arus investasi.

Menurut dia, dominasi pendekatan sepihak Amerika mengabaikan forum negosiasi kelompok seperti G20 atau WTO. Hal itu menciptakan ketidakpastian besar di pasar global dan mendorong investor mencari aset aman, seperti emas dan dolar AS.

Ia menilai risiko krisis keuangan makin tinggi, terutama di negara yang punya sistem keuangan lemah, kebijakan fiskal tidak solid, dan tingkat kepercayaan pasar rendah.

Terjadinya krisis menjadikan jaringan pengaman keuangan (financial safety net) sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih luas. “Kondisi itu membuat modal keluar dari pasar negara berkembang dan memperkuat dolar,” kata dia.

Ancaman Stagflasi

Fenomena itu memicu ancaman stagflasi, yaitu perlambatan ekonomi dan inflasi yang tinggi. Negara berkembang seperti Indonesia harus cepat beradaptasi agar tidak terkena dampak terburuk dari ketegangan global itu. “Indonesia sebagai anggota G20 dan kekuatan ekonomi ASEAN wajib bersikap strategis dan antisipatif,” katanya.

Dia juga menyoroti pentingnya reformasi lembaga keuangan multilateral. Ia meminta Bank Dunia, Asian Development Bank, dan lembaga sejenis agar memperkuat peran dalam membantu negara berkembang menghadapi guncangan global.

Menurutnya, perlu juga reformasi agar lembaga-lembaga tersebut lebih responsif terhadap perubahan global. Termasuk memberikan dukungan fiskal atau pembiayaan dalam waktu cepat.

Analis menilai situasi saat ini menunjukkan perlunya kolaborasi internasional untuk mencegah krisis sistemik. Ketegangan dagang yang tak kunjung reda dapat merusak kepercayaan investor dan melemahkan ekonomi global secara menyeluruh.