Jakarta (Kronikdaily.com) — Pengamat pertanian Syaiful Bahari menegaskan, stok beras saat ini hanya menyentuh angka 4 juta ton, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian.
Padahal, menurut standar ketahanan pangan, idealnya stok cadangan berada di kisaran 6 juta sampai 7,5 juta ton. Untuk itu, cadangan beras Indonesia per Mei 2025 masih jauh dari aman.
Konsumsi nasional yang mencapai 30 juta ton per tahun membuat pemerintah harus menyimpan minimal 20 persen dari angka itu. Posisi stok beras belum bisa terbilang aman karena hasil panen raya kedua belum ada kepastian akan berhasil.
BACA JUGA: Produksi Beras Nasional Berpotensi Turun 9,29 Persen, ini Penyebabnya
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, luas panen pada Maret 2025 mencapai 1,67 juta hektare. Dari angka itu, produksi gabah kering giling diperkirakan mencapai 8,93 juta ton. Jika dikonversi menjadi beras, hasilnya sekitar 4 juta ton. Namun, Syaiful menilai hasil tersebut masih spekulatif karena belum memperhitungkan kualitas rendemen gabah.
“Rendemen menentukan seberapa besar beras yang terproduksi dari gabah. Jika kualitasnya rendah, hasilnya bisa lebih kecil,” ujarnya.
Panen raya berikutnya berpotensi terjadi pada September 2025. Keberhasilan panen itu akan sangat menentukan nasib ketahanan beras nasional. Bila hasilnya melimpah, Indonesia bisa menghindari impor. Sebaliknya, jika gagal, pemerintah harus segera menyusun langkah strategis agar stok tetap aman.
Saat ini, belum ada rencana impor tambahan dari pemerintah. Persediaan beras yang ada masih bersumber dari sisa stok awal tahun, hasil panen April, dan sisa beras impor 2024. Meski begitu, Syaiful tetap mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Ketahanan pangan tetap perlu terjaga dengan antisipasi matang menjelang panen raya selanjutnya.
Proyeksi Produksi Beras 2025
Sementara itu, pengamat AEPI Khudori menilai proyeksi produksi dari BPS masih tergolong wajar. Pola produksi beras 2025 tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. BPS memproyeksikan produksi Januari hingga Juni 2025 mencapai 18,76 juta ton, naik 11,17 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Produksi terbesar umumnya terjadi saat panen raya antara Februari hingga Mei, yang menyumbang 60–65 persen dari total produksi tahunan. Panen musim gadu pada Juni sampai September menyumbang 25–35 persen. Sementara panen pada musim paceklik antara Oktober hingga Januari hanya berkontribusi 5–15 persen.
Dia menambahkan, surplus produksi masih bisa terjadi pada musim gadu, meski tidak menutup kemungkinan terjadinya defisit ringan bila konsumsi melebihi produksi. Menurutnya, pola produksi tahun ini tetap normal karena iklim mendukung. “Kondisi cuaca yang normal ikut menjaga stabilitas pola produksi. Jadi wajar bila produksi semester pertama naik,” kata Khudori.











