Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Tarif Dagang Donald Trump Mulai Jadi Bumerang

×

Tarif Dagang Donald Trump Mulai Jadi Bumerang

Sebarkan artikel ini

Hal itu akibat ketidakpastian kebijakan dagang yang berlarut-larut.

Tarif dagang impor Donald Trump. (Dok. Reuters/Carlos Barria)
Tarif dagang impor Donald Trump. (Dok. Reuters/Carlos Barria)

Jakarta (Kronikdaily.com) — Kebijakan tarif dagang impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai berdampak negatif terhadap sektor pertanian negaranya sendiri.

Para pelaku industri makanan, pupuk, dan alat berat melaporkan penurunan pendapatan sepanjang kuartal pertama 2025. Hal itu akibat ketidakpastian kebijakan dagang yang berlarut-larut.

Archer-Daniels-Midland Co dan Bunge Global SA, dua raksasa pengolahan hasil bumi, mengalami penurunan laba gabungan sekitar 750 juta dolar AS. Mereka menyebut ketidakpastian tarif dan kebijakan bahan bakar nabati sebagai penyebab utama lesunya bisnis.

Perusahaan perdagangan The Andersons Inc menyebut banyak importir menunda pembelian biji-bijian dari AS. Ancaman tarif dan hambatan pelabuhan yang melibatkan kapal-kapal China membuat aliran komoditas terganggu.

CEO William Krueger mengatakan banyak pelanggan kini hanya membeli saat dibutuhkan. Produsen alat berat, seperti CNH Industrial NV dan AGCO Corp juga terdampak. Penjualan traktor dan mesin pertanian turun drastis karena petani enggan berinvestasi.

CEO AGCO, Eric Hansotia, menyatakan ketegangan geopolitik menurunkan optimisme petani dan memukul permintaan alat pertanian.

Industri pupuk ikut terpukul akibat kenaikan tarif impor. Mosaic Co melaporkan pengiriman fosfat ke AS anjlok, karena kapal-kapal lebih memilih rute lain untuk menghindari bea masuk.

Tarif Trump Mengganggu Pertanian

CEO Mosaic Bruce Bodine menegaskan tarif bisa mengganggu distribusi, tetapi tidak bisa menambah pasokan pupuk.

Jeff Tarsi, Presiden Ritel Global Nutrien Ltd, mengatakan harga pestisida dan produk pertanian akan naik hingga 7,5 persen. Ia menegaskan pihaknya akan meneruskan kenaikan harga itu kepada konsumen.

Namun, Brasil justru menikmati lonjakan permintaan ekspor. Perusahaan Minerva SA mencatat kenaikan laba setelah China beralih membeli daging dari Amerika Selatan. Brasil juga menggantikan posisi AS sebagai pemasok utama kedelai ke China sejak perang dagang pada 2018.

Wakil Presiden Komersial Mosaic, Jenny Wang, mengatakan kebijakan tarif AS justru membuka peluang besar bagi petani Brasil. Ia memperkirakan pendapatan petani Negeri Samba terus tumbuh seiring pergeseran arus perdagangan global.

Ketidakpastian tarif dagang, bea masuk pupuk, dan melonjaknya biaya alat pertanian kini menjadi tantangan berat bagi petani Amerika. Kebijakan tarif yang semula untuk melindungi industri dalam negeri malah mengancam ketahanan pangan AS dalam jangka panjang.