Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

6 Alasan Utama Gen Z Kesulitan Dapat Pekerjaan dan Cara Menghadapinya di 2025

×

6 Alasan Utama Gen Z Kesulitan Dapat Pekerjaan dan Cara Menghadapinya di 2025

Sebarkan artikel ini

Tantangan besar tetap mereka hadapi dalam mencari pekerjaan yang sesuai.

Suasana antrean melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Dok ANTARA
Suasana antrean melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Dok ANTARA

Jakarta (Kronikdaily.com) — Gen z kesulitan dapat pekerjaan karena berbagai penyebab meski kalangan tersebut memiliki banyak keterampilan digital yang baik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan generasi muda termasuk Gen Z mendominasi angka pengangguran terbuka di Indonesia.

Sebab, tantangan besar tetap mereka hadapi dalam mencari pekerjaan yang sesuai. Berikut beberapa faktor utama yang menjelaskan fenomena tersebut.

Faktor Utama Penyebab Gen Z Sulit Cari Kerja

  1. Keterampilan yang Tidak Sesuai Kebutuhan

Salah satu alasan mengapa Gen Z kesulitan mendapatkan pekerjaan adalah ketidaksesuaian antara keterampilan dan tuntutan industri saat ini.

BACA JUGA: 5 Pabrik di Jawa Barat Tutup, Ribuan Karyawan Terkena PHK, ini Penyebab

Banyak lulusan baru yang memasuki pasar kerja memiliki keahlian yang kurang relevan atau tidak cukup spesifik untuk posisi yang tersedia. Hal itu menjadi kendala utama bagi anak muda dalam bersaing dengan kandidat lain yang lebih siap.

  1. Tingkat Daya Saing Tinggi

Pasar kerja di Indonesia, khususnya untuk posisi entry-level semakin kompetitif. Jumlah lulusan baru semakin meningkat setiap tahun.

Sementara pertumbuhan lapangan kerja tidak cukup untuk mengimbangi jumlah tenaga kerja yang tersedia. Kondisi itu membuat banyak kandidat harus bersaing memperebutkan posisi terbatas yang mempersulit peluang kerja bagi Gen Z.

  1. Kurang Pengalaman Kerja

Banyak perusahaan mengutamakan pengalaman kerja meski posisi yang tersedia adalah entry-level. Kondisi itu sering menciptakan kekhawatiran bagi para lulusan baru.

Gen Z membutuhkan pengalaman untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kesulitan memperoleh pengalaman tanpa pekerjaan terlebih dulu.

Selain itu, terbatasnya akses ke program magang atau pekerjaan sambilan membuat Gen Z semakin kesulitan untuk memenuhi persyaratan yang pencari kerja butuhkan.

  1. Ekspektasi Tidak Realistis

Sebagian besar Gen Z memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap gaji dan kondisi kerja. Mereka menginginkan pekerjaan dengan gaji besar, jam kerja fleksibel, dan lingkungan kerja yang ideal.

Namun, kenyataan di pasar kerja sering kali tidak sesuai dengan harapan tersebut. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan itu sering menambah tingkat ketidakpuasan dan membuat mereka merasa frustrasi dalam mencari pekerjaan yang sesuai.

  1. Sikap Perusahaan terhadap Gen Z

Menurut laporan dari Intelligent, platform konsultasi pendidikan dan karier, sekitar satu dari enam perusahaan ragu untuk merekrut Gen Z.

Survei yang melibatkan hampir 1.000 manajer perekrutan itu mengungkapkan banyak perusahaan merasa Gen Z mudah tersinggung dan terlalu percaya diri. Lalu kurang memiliki etika kerja yang kuat dan kemampuan berkomunikasi yang baik.

  1. Kesulitan Beradaptasi di Dunia Kerja

Holly Schroth, dosen senior di Haas School of Business di University of California, Berkeley, menambahkan Gen Z lebih fokus pada kegiatan ekstrakurikuler. Hal itu untuk meningkatkan daya saing di kampus daripada mempersiapkan diri dengan pengalaman kerja yang mereka butuhkan untuk karier. Hal itu menghambat kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja yang lebih berorientasi pada pengalaman langsung.

Tantangan dan Peluang bagi Gen Z

Meski menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja, Gen Z masih memiliki peluang besar untuk berkembang. Sebab, munculnya berbagai karir baru dengan adanya kemajuan teknologi, seperti digital marketing, data science, dan AI (kecerdasan buatan).

Hal itu memberikan peluang bagi mereka untuk memanfaatkan keterampilan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar. Untuk mengatasi tantangan itu, Gen Z perlu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja, dan mencari pengalaman magang.

Kemudian memiliki sikap yang lebih fleksibel dan siap untuk beradaptasi dengan perubahan industri. Reskilling dan upskilling juga menjadi strategi yang sangat penting untuk mempertahankan daya saing di pasar tenaga kerja.