Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Ini Langkah China demi Redam Dampak Tarif AS dan Lesunya Ekspor

×

Ini Langkah China demi Redam Dampak Tarif AS dan Lesunya Ekspor

Sebarkan artikel ini

Data Bloomberg menyebutkan pada Sabtu (19/4/2025), belanja gabungan dari anggaran publik dan dana pemerintah China mencapai 9,29 triliun yuan atau sekitar US$1,3 triliun.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019. (Foto file: Reuters/Kevin Lamarque)

Jakarta (Kronikdaily.com) — PEMERINTAH Tiongkok meningkatkan belanja negara secara agresif pada awal 2025 untuk melindungi ekonomi dari tekanan eksternal dan global. Eskalasi perang dagang dengan tarif Amerika Serikat (AS) membuat China mengambil langkah cepat dengan memperluas pengeluaran fiskal.

Data Bloomberg menyebutkan pada Sabtu (19/4/2025), belanja gabungan dari anggaran publik dan dana pemerintah China mencapai 9,29 triliun yuan atau sekitar US$1,3 triliun. Jumlah itu setara Rp21.889,2 triliun jika menggunakan kurs JISDOR 17 April 2024.

Pengeluaran tersebut tumbuh 5,6 persen dari periode yang sama tahun lalu. Realisasi itu juga mencatatkan rekor tertinggi sejak 2022. China menghabiskan hampir 22 persen dari total anggaran 2025 hanya dalam tiga bulan.

BACA JUGA: Strategi Investasi Saat Gejolak Politik dan Ekonomi 2025, ini Saran Para Ahli

Pemerintah China sengaja mengakselerasi belanja karena tekanan ekspor akibat kenaikan tarif impor dari AS. Selain itu, sektor properti yang terus melemah dan deflasi berkepanjangan turut menekan konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis.

Para ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi China akan melambat mulai kuartal kedua 2025. Bahkan, beberapa bank besar memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 4 persen, jauh di bawah target resmi pemerintah, yaitu 5 persen.

Sejumlah Langkah Disiapkan

Ekonom Goldman Sachs, Lisheng Wang, menyebut kebijakan fiskal akan menjadi motor utama perekonomian China tahun ini. Namun, ia menilai stimulus itu belum cukup untuk menahan semua dampak negatif dari luar negeri.

Wang memperkirakan pemerintah akan mengusulkan kuota obligasi tambahan pada Kongres Rakyat Nasional akhir tahun ini. Bank sentral kemungkinan memangkas suku bunga dan membeli obligasi demi mendukung program fiskal tersebut.

Selain itu, pemerintah China berpotensi mempercepat pemberian insentif pajak guna membantu eksportir menghadapi tekanan tarif AS. Meski insentif pajak ekspor naik 11 persen bulan lalu, peningkatannya tidak terlalu signifikan dari tahun sebelumnya.

Dari sisi penerimaan negara, penjualan tanah turun 16,5 persen secara tahunan pada bulan lalu. Pendapatan dari sektor properti juga melemah 0,1 persen. “Dalam dua bulan pertama 2025, penerimaan pajak menurun, sedangkan pendapatan non-pajak naik hampir 50 persen,” kata Wang.

Pemerintah daerah juga menjual obligasi untuk menukar utang tersembunyi dengan utang resmi. Tujuannya untuk meringankan tekanan fiskal dan mengurangi denda kepada pelaku usaha, yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan non-pajak.

Kesenjangan antara pendapatan dan belanja pemerintah semakin melebar. Defisit anggaran China melonjak 41 persen secara tahunan menjadi 2,3 triliun yuan. Meski demikian, pemerintah menegaskan masih memiliki ruang untuk menambah stimulus jika dibutuhkan.

Langkah-langkah dukungan lanjutan telah disiapkan dan diumumkan dalam sidang parlemen bulan lalu. Pemerintah China optimistis mampu menjaga stabilitas ekonomi meski tekanan global terus meningkat.