Jakarta (Kronikdaily.com) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Investor cenderung mengambil keuntungan dari ketidakpastian pasar, sementara situasi politik dalam negeri turut memperkeruh keadaan dengan meremehkan kondisi IHSG.
Demonstrasi terkait pengesahan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) serta kekhawatiran terhadap pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) semakin menekan kepercayaan pasar.
Namun, Presiden Prabowo Subianto justru mengeluarkan pernyataan yang meremehkan dampak penurunan IHSG dengan alasan harga pangan aman justru menambah kekhawatiran.
BACA JUGA: Strategi Investasi Saat Gejolak Politik dan Ekonomi 2025, ini Saran Para Ahli
Bahkan, pernyataannya yang menyebut bermain saham sebagai bentuk judi bisa memperparah ketidakpercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Sikap itu berpotensi merusak iklim investasi di Indonesia dan mempercepat arus modal keluar.
Pemerintah seolah tidak memahami pasar modal bukan sekadar ajang spekulasi, melainkan cerminan nyata dari kondisi ekonomi nasional meski bukan sebagai sektor riil ekonomi. Ketika IHSG terus turun, dampaknya bisa berantai dan berujung pada krisis ekonomi.
Investor yang kehilangan kepercayaan akan menarik dana mereka dari pasar saham, menyebabkan harga saham perusahaan anjlok. Akibatnya, perusahaan yang mengandalkan pendanaan dari bursa efek mengalami kesulitan likuiditas. Sehingga, berujung pada pemangkasan operasional hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Sebagai contoh, dalam krisis 1998, jatuhnya pasar modal Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan instabilitas ekonomi. Banyak perusahaan terpaksa gulung tikar karena dana operasional mereka tersedot akibat anjloknya saham.
Dampaknya tidak hanya pada sektor korporasi, tetapi juga pada masyarakat luas. Karyawan yang di-PHK kehilangan daya beli, usaha kecil menengah (UMKM) terdampak karena konsumsi turun drastis, dan perputaran uang di pasar menjadi lesu.
Penurunan IHSG Masalah Ekonomi Nasional
Kondisi tersebut yang mulai terasa saat ini, bahkan saat liburan lebaran Idulfitri yang seharusnya bisa menjadi puncak daya beli masyarakat. Namun, nyatanya ada penurunan signifikan terhadap perputaran uang, kunjungan wisatawan, dan pemudik pada lebaran 2025 ini.
Pada akhirnya, deflasi makin rendah sedangkan daya beli masyarakat tetap anjlok, dan negara terjebak dalam resesi berkepanjangan.
Dengan kata lain, IHSG yang turun bukan hanya masalah bagi investor, tetapi juga bagi ekonomi nasional secara keseluruhan. Pemerintah seharusnya memberikan solusi konkret untuk mengembalikan kepercayaan pasar, bukan justru mengeluarkan pernyataan yang memperburuk keadaan.
Stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan harga pangan, tetapi juga kepercayaan investor dan kelangsungan dunia usaha. Sebab, sikap pemerintah yang terus mengabaikan pentingnya pasar modal itu akan membuat Indonesia menghadapi krisis yang lebih besar di masa depan.











