Kronikdaily.com (Jakarta) — Apple mengalami tantangan serius di China, pasar internasional terbesar mereka. Laporan terbaru dari IDC menyebut penjualan iPhone pun bakal turun drastis lagi pada 2025 menurut
Lembaga riset itu memperkirakan pengiriman iPhone di China anjlok 1,9% sepanjang tahun ini. Data itu mempertegas tren negatif Apple di wilayah yang sebelumnya jadi salah satu pasar paling menguntungkan.
Huawei dan Android Serbu Segmen Premium
Sejak dua tahun terakhir, penjualan iPhone bersaing langsung dengan produk premium lokal seperti Huawei. Persaingan makin sengit karena produsen lokal terus berinovasi dan mendapat dukungan kuat dari pemerintah.
BACA JUGA: Trump Desak iPhone Buatan Amerika, Tapi Produksi Lokal Mustahil
Subsidi China untuk perangkat elektronik dengan harga di bawah 6.000 yuan juga mendorong dominasi Android. Hal itu menyebabkan pangsa pasar iPhone terus tergerus.
Pasar smartphone China sendiri tetap tumbuh sekitar 3% tahun ini. Sebagian besar berkat Android yang menikmati dorongan subsidi dari pemerintah.
Penjualan Apple di China Raya Turun Tajam
Untuk kuartal yang berakhir 29 Maret 2025, Apple mencatat penurunan penjualan 2,25% year-on-year di wilayah China Raya, termasuk Hong Kong dan Taiwan.
Penurunan itu memperpanjang tren negatif dari tahun sebelumnya, di mana pengiriman iPhone melemah hingga 8% hingga September 2024. Bahkan dua tahun sebelumnya, pengiriman juga turun 2%.
Tarif Impor AS Ancam Pasar Global iPhone
Kondisi makin parah karena ketidakpastian geopolitik. Pemerintah Amerika Serikat berencana memberlakukan tarif 25% untuk smartphone impor, termasuk iPhone yang perakitannya di luar negeri.
Meskipun smartphone sempat mendapatkan pengecualian dari tarif pada April lalu, Presiden Donald Trump mengancam akan menarik kembali kebijakan tersebut. Ancaman tarif itu berdampak langsung pada harga saham Apple dan membuat konsumen ragu membeli ponsel baru.
Prediksi Pertumbuhan Smartphone Global Juga Lesu
IDC hanya memperkirakan pertumbuhan pasar smartphone global 0,6% tahun ini. Sementara Counterpoint Research sedikit lebih optimistis dengan proyeksi 1,9%.
Kedua lembaga menyebut risiko kenaikan harga dan tekanan ekonomi global sebagai faktor penghambat minat beli masyarakat. Ketidakpastian tarif juga memperburuk sentimen pasar.
Rantai Pasok dan Geopolitik Jadi Tantangan Baru
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan industri smartphone kini terjebak dalam pusaran ketidakpastian global. “Produsen smartphone harus pandai mengelola risiko geopolitik sekaligus mempercepat diversifikasi rantai pasok mereka,” kata Nabila.
Apple dan merek besar lain kini berhadapan dengan tantangan berat. Mulai dari tekanan politik hingga persaingan harga di pasar strategis seperti China.







