Jakarta — Pemerintah berjanji mencari solusi agar 8.000 eks karyawan Sritex bisa kembali bekerja setelah perusahaan tekstil itu pailit. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan para menterinya untuk mencari jalan keluar agar industri tekstil nasional tidak semakin terpuruk.
Pada awal pekan ini, Prabowo memanggil beberapa pihak terkait, termasuk Menteri Ketenagakerjaan Yassierly dan tim kurator Sritex. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah akan membuka kembali Sritex dengan skema baru.
“Sritex tetap akan bergerak di industri tekstil, dan kami berharap 8.000 karyawan bisa kembali bekerja,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3).
Sritex: Dari Raksasa Tekstil hingga Pailit
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pernah menjadi pemimpin industri tekstil di Asia Tenggara. Namun, masalah finansial yang semakin berat membuat perusahaan ini tidak mampu bertahan.
Sritex dinyatakan pailit pada 21 Oktober 2024 setelah gagal menyelesaikan utang senilai US$1,6 miliar atau Rp25 triliun kepada 28 bank. Meski ada upaya perlawanan, perusahaan akhirnya harus menutup operasionalnya pada 1 Maret 2025.
Keputusan ini berdampak pada 8.400 karyawan yang terkena PHK. Banyak pekerja yang kehilangan mata pencaharian dan menghadapi ketidakpastian masa depan.
Skema Baru untuk Menyelamatkan Sritex
Pemerintah mengusulkan solusi baru agar Sritex tetap bisa beroperasi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menyewakan alat-alat berat Sritex kepada investor.
Menurut kurator Sritex, Nurma Sadikin, saat ini sudah ada beberapa investor yang tertarik. Keputusan mengenai investor baru akan diumumkan dalam dua minggu ke depan.
“Kami berharap langkah ini bisa meningkatkan aset perusahaan dan membuka kembali lapangan kerja bagi eks karyawan Sritex,” kata Nurma.
Namun, beberapa ekonom menilai skema penyewaan alat produksi tidak cukup untuk membayar gaji ribuan karyawan. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengingatkan bahwa sektor tekstil masih lesu dan minim investor.
“Jika hanya mengandalkan penyewaan alat, itu tidak cukup untuk membayar gaji 8.000 karyawan,” ujar Andry.
Peran Erick Thohir dan Suntikan Dana Pemerintah
Dalam konferensi pers, Menteri BUMN Erick Thohir turut hadir meski tidak memberikan pernyataan. Kehadirannya memunculkan spekulasi bahwa Kementerian BUMN mungkin akan terlibat dalam penyelamatan Sritex.
Beberapa pihak menduga pemerintah akan memberikan fasilitas kredit khusus atau bahkan memasukkan Sritex ke dalam BUMN.
Guru Besar Hukum Perburuhan Universitas Indonesia, Aloysius Uwiyono, menyatakan bahwa penyelamatan Sritex sulit terwujud tanpa suntikan dana pemerintah.
“Tanpa modal dari pemerintah, Sritex sudah tidak berdaya. Jika belum ada kepastian dana, ini hanya sekadar janji politik,” ujar Aloysius.
Alternatif Pekerjaan untuk Eks Karyawan Sritex
Selain skema penyelamatan Sritex, pemerintah juga mengupayakan solusi lain bagi eks pekerja. Tujuh perusahaan telah menyiapkan 10.000 lowongan pekerjaan bagi mereka yang terdampak PHK massal.
Langkah ini diharapkan bisa mengurangi beban para pekerja yang kehilangan mata pencaharian. Namun, tidak semua mantan karyawan Sritex bisa langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka.
Mampukah Pemerintah Menepati Janjinya?
Janji pemerintah untuk menyelamatkan Sritex masih menjadi tanda tanya besar. Dalam dua minggu ke depan, keputusan mengenai investor baru akan diumumkan. Jika skema baru berhasil, ada harapan bagi ribuan eks pekerja untuk kembali bekerja.
Namun, jika tidak ada solusi konkret, janji ini bisa menjadi angin lalu yang hanya membuat eks karyawan Sritex semakin kecewa. Akankah Sritex benar-benar bangkit kembali?









