Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

8 Dampak dari IHSG yang Terus Merosot Tajam

×

8 Dampak dari IHSG yang Terus Merosot Tajam

Sebarkan artikel ini

Penurunan itu menunjukkan ketidakstabilan pasar saham dan berpotensi memengaruhi perekonomian nasional, termasuk kebijakan fiskal pemerintah. 

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin. Dok ANTARA
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin. Dok ANTARA

Jakarta (Kronikdaily.com) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi tolok ukur utama kondisi pasar modal di Indonesia. Pada Maret 2025, IHSG merosot 6,12 persen atau 395,86 poin ke level 6.076,08.

Penurunan itu menunjukkan ketidakstabilan pasar saham dan berpotensi memengaruhi perekonomian nasional, termasuk kebijakan fiskal pemerintah.

Mengutip dari laman Kemenkeu, tren tersebut yang berlanjut dalam jangka panjang bisa berdampak luas ke berbagai sektor. Termasuk pendapatan negara, proyek infrastruktur, utang pemerintah, serta stabilitas sosial dan ekonomi.

Setidaknya ada delapan dampak yang akan berdampak kepada perekonomian negara dari kondisi IHSG yang terus merosot.

  1. Pendapatan Negara Menurun

IHSG yang melemah dapat berdampak pada penerimaan pajak perusahaan dan dividen dari BUMN. Banyak perusahaan yang terdaftar di bursa saham menyumbang pajak besar.

Jika harga saham turun, keuntungan perusahaan bisa berkurang sehingga mengurangi pendapatan negara dari pajak penghasilan dan dividen.

Pelemahan pasar saham juga bisa membuat investor ragu berinvestasi. Sehingga, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi sumber pendapatan negara.

  1. Pendanaan Proyek Infrastruktur Terganggu

Pemerintah mengandalkan APBN dan investasi swasta untuk membiayai proyek infrastruktur. IHSG yang melemah membuat investor kehilangan kepercayaan sehingga pendanaan melalui skema public-private partnerships (PPP) berisiko berkurang.

Kondisi itu dapat membuat pemerintah harus mengalihkan anggaran ke sektor prioritas seperti kesehatan dan pendidikan. Termasuk proyek infrastruktur yang tidak mendesak bisa tertunda.

  1. Ketergantungan pada Utang Meningkat

Turunnya pendapatan negara akibat melemahnya IHSG bisa membuat pemerintah kesulitan menutup defisit anggaran. Salah satu solusinya adalah menambah utang untuk membiayai belanja negara.

Namun, jika utang terus meningkat tanpa pertumbuhan ekonomi yang mengimbanginya, pembayaran bunga bisa membebani anggaran negara dan mengurangi fleksibilitas fiskal di masa depan.

  1. Belanja Sektor Non-Prioritas Berkurang

Jika penerimaan negara menurun, pemerintah akan memangkas anggaran untuk sektor yang tidak mendesak. Proyek pembangunan jangka panjang yang tidak berpengaruh langsung pada pertumbuhan ekonomi bisa tertunda bahkan batal.

Belanja modal dan program non-esensial bisa menjadi korban agar dana teralihkan ke sektor krusial, seperti perlindungan sosial dan layanan dasar masyarakat.

  1. Stabilitas Sosial dan Politik Terganggu

Ketidakstabilan pasar saham dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan sosial. Ekonomi yang terus melemah dan pengangguran meningkat membuat masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada pemerintah.

Tekanan politik bisa meningkat jika pemerintah tidak segera mengambil kebijakan yang efektif dalam menangani dampak pelemahan IHSG. Tuntutan untuk meningkatkan bantuan sosial dan membuka lapangan kerja bisa semakin kuat.

  1. Jaring Pengaman Sosial Terbatas

Dalam kondisi ekonomi sulit, pemerintah cenderung meningkatkan alokasi anggaran. Hal itu untuk program jaring pengaman sosial guna membantu masyarakat terdampak.

Namun, keterbatasan anggaran bisa menjadi kendala dalam memastikan bantuan sosial tetap berjalan optimal. Pemerintah perlu memastikan program itu tepat sasaran agar dampaknya maksimal bagi kelompok yang membutuhkan.

  1. Kepercayaan Investor Melemah

Penurunan IHSG dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Investor yang melihat ketidakpastian tinggi bisa menarik modal dari pasar saham dan mengurangi investasi di sektor riil.

  1. Daya Beli Masyarakat Turun

Arus modal keluar bisa memperburuk nilai tukar rupiah dan meningkatkan inflasi. Sehingga, berdampak pada daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Untuk mengatasi dampak negatif itu, pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan fiskal dengan menyeimbangkan kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek. Langkah strategis yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.