Jakarta (Kronikdaily.com) — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana pemerintah menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura. Ia menilai, kebijakan itu penting untuk memperkuat kedaulatan energi nasional.
Dalam diskusi bertajuk Arah Kebijakan Geostrategi dan Geopolitik Indonesia, Bahlil mengungkap data mengejutkan, yaitu 54 persen impor BBM Indonesia berasal dari Singapura.
“Singapura tidak punya sumber minyak, tapi justru belanja dari mereka. Itu strategi yang keliru,” kata Bahlil.
BACA JUGA: Nissan Tutup 7 Pabrik Global dan PHK Ribuan Karyawan, Mau Bangkrut
Ia menambahkan, Singapura bahkan mengekspor 34 persen produksi BBM ke Indonesia. Padahal, harga yang mereka tawarkan sama dengan negara-negara di Timur Tengah yang memiliki ladang minyak asli.
Dia menegaskan, Indonesia sebaiknya mengimpor langsung dari negara produsen minyak, seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab. “Kita lebih bermartabat beli dari produsen, bukan dari negara tanpa sumur minyak,” ujarnya.
Ia juga menyentil kebijakan masa lalu yang tetap membeli BBM dari Singapura. Menurutnya, strategi itu harus ada evaluasi demi memperkuat posisi Indonesia dalam geopolitik dan ketahanan energi.
“Kalau masih impor dari negara yang tidak punya minyak, berarti ada yang salah dengan arah berpikir,” kata Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Kritik dari Rencana Kebijakan Bahlil
Menanggapi wacana tersebut, anggota DPR RI Mulyanto mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Menurutnya, penghentian impor BBM dari Singapura butuh kajian teknis dan ekonomi yang mendalam. “Jangan hanya karena dorongan nasionalisme berlebihan tanpa hitung-hitungan yang jelas,” kata Mulyanto.
Ia menjelaskan, kedekatan geografis Singapura memberi keuntungan logistik bagi Indonesia. Selain itu, Singapura mengimpor gas dan listrik dari Indonesia sehingga hubungan dagang bersifat timbal balik.
Dari sisi kapasitas, kilang minyak Singapura mampu memproses 1,5 juta barel per hari, lebih besar dari Indonesia yang hanya 1 juta barel. Hal itu membuat harga BBM dari Singapura relatif bersaing di pasar global.
Mulyanto juga mendorong Pertamina agar membuka data harga impor BBM secara transparan kepada publik. Ia khawatir wacana itu hanya sebagai alasan untuk mengganti pemain dalam bisnis minyak nasional.
Dia meminta pemerintah fokus pada peningkatan produksi minyak nasional dan memperbaiki kilang yang ada. Langkah itu lebih konkret ketimbang mengandalkan impor jangka panjang. “Jika ingin mengurangi impor, maka lifting minyak harus naik dan perkuat kilang,” ujarnya.











