Kronikdaily (Jakarta) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 24 Desember 2025. Tekanan muncul setelah IHSG turun 0,71 persen ke level 8.584 pada penutupan perdagangan kemarin.
Pelemahan tersebut terjadi seiring dominasi saham yang terkoreksi. Ada 373 saham melemah, sedangkan 275 saham menguat dan 157 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,62 triliun, lebih tinggi dari hari sebelumnya.
Simak 8 Dampak dari IHSG yang Terus Merosot Tajam
Tekanan Jelang Libur Panjang Natal
Tim Riset PT BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan pasar muncul menjelang libur panjang Natal. Aksi ambil untung pada saham berkapitalisasi besar kembali mendominasi.
Investor asing juga melanjutkan aksi jual bersih. Kondisi itu membuat pergerakan IHSG belum menemukan momentum penguatan yang solid.
Simak Berita Kategori Ekonomi Lainnya
Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 8.550 hingga 8.570. Pasar masih mencermati potensi lanjutan profit taking dalam jangka pendek.
Sentimen Global Beri Penopang
Meski tertekan, IHSG tetap memperoleh dukungan dari pasar global. Tiga indeks utama Wall Street pun menguat pada perdagangan sebelumnya.
Indeks Dow Jones naik 0,16 persen. S&P 500 menguat 0,46 persen, sementara Nasdaq melonjak 0,57 persen. Sentimen itu berpotensi menahan pelemahan lebih dalam.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Untuk perdagangan jelang akhir pekan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan akumulasi beli saham AKRA, AMRT, dan DOID.
Sementara, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, juga melihat potensi koreksi lanjutan. Ia menilai IHSG masih berada dalam fase Wave [iv] dari Wave 5.
Menurut dia, IHSG berpotensi menguji area 8.464 hingga 8.560. Area itu berfungsi menutup celah gap tipis sebelumnya.
Dalam skenario terburuk, IHSG bisa terkoreksi menuju area 8.000-an. Support terdekat berada di level 8.553 dan 8.493. Sementara resistance berada di 8.714 dan 8.821.
Ia merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham MBMA dan TINS. “Saham MDKA dan SMBR masuk kategori speculative buy untuk trader agresif,” kata dia.







